JAKARTA, Beritarepublik.id – Delapan tahun setelah Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump resmi menarik Washington dari kesepakatan nuklir Iran atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), hubungan antara AS dan Iran kembali memasuki fase negosiasi yang menentukan.
Keputusan AS keluar dari JCPOA pada 8 Mei 2018 menjadi titik balik besar dalam dinamika politik Timur Tengah. Saat itu, Trump menilai perjanjian yang dibentuk pada era Barack Obama tersebut terlalu menguntungkan Iran dan tidak mampu menjamin penghentian ambisi nuklir Teheran secara permanen.
JCPOA sebelumnya dirancang untuk membatasi aktivitas pengayaan uranium Iran, mengurangi stok material nuklir, serta membuka akses pengawasan internasional. Sebagai imbalannya, sejumlah sanksi ekonomi terhadap Iran dicabut agar perekonomian negara tersebut kembali pulih.
Kini, memasuki 2026, Washington dan Teheran kembali membuka ruang dialog untuk merumuskan kesepakatan baru. Namun, pembahasan kali ini tidak hanya menyentuh isu nuklir, melainkan juga melibatkan kepentingan geopolitik yang lebih luas.
Negosiasi terbaru disebut berkaitan dengan upaya meredakan ketegangan antara AS, Israel, dan Iran, sekaligus menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah yang selama beberapa tahun terakhir terus memanas. Selain itu, pembukaan kembali jalur perdagangan energi di Selat Hormuz menjadi salah satu fokus penting karena jalur tersebut merupakan lintasan utama distribusi minyak dunia.
Meski pembicaraan kembali dilakukan, sejumlah analis menilai peluang terciptanya perdamaian permanen masih sangat kecil.
Profesor regulasi bisnis internasional dari Henley Business School, Rajneesh Narula, menilai kesepakatan yang sedang dibahas kemungkinan besar hanya akan menghasilkan kompromi sementara.
“Kesepakatan damai AS-Iran kemungkinan besar tidak akan benar-benar terlihat seperti perdamaian. Paling jauh, itu hanya gencatan senjata penuh ambiguitas agar kedua pihak bisa sama-sama mengklaim kemenangan,” ujarnya kepada Newsweek.
Di sisi lain, Trump tetap menganggap operasi militer AS terhadap Iran jauh lebih singkat dibanding berbagai konflik panjang yang pernah melibatkan Amerika, termasuk Perang Vietnam.
Namun hingga kini, belum ada jaminan bahwa proposal baru tersebut benar-benar mampu memberikan posisi strategis yang lebih menguntungkan bagi Washington dibanding situasi sebelum konflik meningkat.
Narula bahkan mengutip pandangan mantan diplomat senior AS, Henry Kissinger, mengenai perang Vietnam.
“Kadang-kadang, tidak kalah saja sudah cukup dianggap sebagai kemenangan,” katanya.
Menurut Narula, Iran justru memperoleh keuntungan strategis yang tidak terlihat secara langsung.
“Iran berhasil bertahan menghadapi tekanan besar AS tanpa mengalami perubahan rezim. Itu sendiri sudah menjadi kemenangan penting bagi Teheran,” pungkasnya. (ARD)
No Comments